Popular Post

Popular Posts

Sabtu, 07 Oktober 2017

Pagi mendung, bersama jutaan butiran embun yang menguasai atmosfer sebuah desa terpencil nan jauh di Mato... Bukit-bukit mulai menikmati keteduhan hari tanpa sinar mentari... Ayam seolah enggan berkokok dan selimut kembali ditarik karena rasa dingin yang mengigit mulai menjalar dari ujung kaki sampai gigi...
"Hai Udin, bangun" teriak Ema memecah telingaku. Yah siapa yang tak kenal emak di rumah ini, sosok ratu yang suaranya paling menggelegar saat membangunkan masanya...
Bisa dibilang suara alarm hp akan mengalahkan nyaringnya suara emak.
"Bentar lagi Mak, dingin" ku tarik selimut sampai menutupi seluruh badan. Cuaca sedingin ini memang mantapnya melabuhkan badan di kasur nan hangat.
"Udiiiiiiiiinnnnn" teriakan emak kali ini benar-benar seperti gempa bumi yang nyaris merobohkan rumah reot ini. Bahkan tetangga, ayam, kambing, nyaris jantungan karena suara yang menukik bak bom atom di kota Hiroshima Jepang.
"Kamu ini, jam berapa sekarang..." Teriak Ema lagi
"Memangnya jam berapa Mak?"... Tanyaku malas
"Tuhhhhh" emak menunjukan jam Beker ku  yang ternyata sudah menunjukan pukul 8 pagi...
"Mampuassss" aku lari kocar-kacir ke kamar mandi, aku lupa rupanya hari ini hari ada jadwal kuliah pagi. Sialnya dosen kali ini benar-benar tidak punya hati, siapapun yang terlambat matilah ia... Jangankan mengetuk pintu, lewat depan pintu pun bisa kena kutuknya.
Ku keluarkan motor Grandong ku yang keluaran tahun 2005. Maklum motor suprafit ini satu-satunya kendaraan paling setia yang bisa mengantarku kemana saja, walaupun kadang dia manja minta jajan tiba-tiba.
Motor melaju kencang dengan kecepatan 80 km/jam dan aku tiba di kelas sebelum dosen kumis baplang tak punya hati itu masuk (lamunan).  Realitanya motorku boro-boro bisa lari, jalan pun dia seolah mau sekaratul maut. Akhirnya aku duduk dengan bengong dibawah pohon Jamblang. Ditambah rambutku yang kribo permanen dengan dipenuhi kutu membuatku terlihat lebih menyedihkan.
"Kenapa lu bro, ngelamun aja kaya orang banyak utang"...
Ini dia sahabat ku Samsul. Sahabat setia dalam segala hal. Namun banyak orang yang hilang persahabatan kami ibarat siburuk rupa dan pangeran impian. Sungguh ini label yang paling memuaskan...
Walaupun perbandingan kami jauh beda, justru disinilah nikmatnya persahabatan kami. Ya walaupun realitanya dia yang paling banyak nikmatnya ðŸ˜­...
"Engga bro, Gue kesiangan masuk kelas. Mana yang masuk dosen kumis baplang lagi"..
"Santai bro, kalo Lo ga lulus tahun depan masih bisa ngulang ha-ha-ha"...
"Kampret Lo... Bisa jadi mahasiswa abadi gue disini"...
"Tenang bro, semua akan baik-baik saja" Samsul ngerangkul ku dengan tangannya yang putih. Sial, perbandingan kulit ku dengannya benar-benar kontras. Dia putih kaya gula pasir dan aku coklat kaya gula Jawa yang nyaris gosong.


*Bersambung

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © RENI RETNA AYU - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -