Popular Post

Popular Posts

Recent post

Langit terang dalam kenangan
Mentari cerah dalam kenangan
Bunga bermekaran dalam kenangan
Burung bernyanyi dalam kenangan

Hati suci dalam kenangan
Tubuh bersih dalam kenangan
Sejarah indah dalam kenangan
Masa depan masih harapan


kenangan

Senang senang senang
Senang senang senang
Senang senang senang
Senang senang senang

Sen ang sen ang
Sen ang sen ang

Sen
        Ang
                 Se      
                      Nang

                Se

Nang se Nang se Nang se
Nangse nangse nangse
Nangse nangse nangse
Pagi mendung, bersama jutaan butiran embun yang menguasai atmosfer sebuah desa terpencil nan jauh di Mato... Bukit-bukit mulai menikmati keteduhan hari tanpa sinar mentari... Ayam seolah enggan berkokok dan selimut kembali ditarik karena rasa dingin yang mengigit mulai menjalar dari ujung kaki sampai gigi...
"Hai Udin, bangun" teriak Ema memecah telingaku. Yah siapa yang tak kenal emak di rumah ini, sosok ratu yang suaranya paling menggelegar saat membangunkan masanya...
Bisa dibilang suara alarm hp akan mengalahkan nyaringnya suara emak.
"Bentar lagi Mak, dingin" ku tarik selimut sampai menutupi seluruh badan. Cuaca sedingin ini memang mantapnya melabuhkan badan di kasur nan hangat.
"Udiiiiiiiiinnnnn" teriakan emak kali ini benar-benar seperti gempa bumi yang nyaris merobohkan rumah reot ini. Bahkan tetangga, ayam, kambing, nyaris jantungan karena suara yang menukik bak bom atom di kota Hiroshima Jepang.
"Kamu ini, jam berapa sekarang..." Teriak Ema lagi
"Memangnya jam berapa Mak?"... Tanyaku malas
"Tuhhhhh" emak menunjukan jam Beker ku  yang ternyata sudah menunjukan pukul 8 pagi...
"Mampuassss" aku lari kocar-kacir ke kamar mandi, aku lupa rupanya hari ini hari ada jadwal kuliah pagi. Sialnya dosen kali ini benar-benar tidak punya hati, siapapun yang terlambat matilah ia... Jangankan mengetuk pintu, lewat depan pintu pun bisa kena kutuknya.
Ku keluarkan motor Grandong ku yang keluaran tahun 2005. Maklum motor suprafit ini satu-satunya kendaraan paling setia yang bisa mengantarku kemana saja, walaupun kadang dia manja minta jajan tiba-tiba.
Motor melaju kencang dengan kecepatan 80 km/jam dan aku tiba di kelas sebelum dosen kumis baplang tak punya hati itu masuk (lamunan).  Realitanya motorku boro-boro bisa lari, jalan pun dia seolah mau sekaratul maut. Akhirnya aku duduk dengan bengong dibawah pohon Jamblang. Ditambah rambutku yang kribo permanen dengan dipenuhi kutu membuatku terlihat lebih menyedihkan.
"Kenapa lu bro, ngelamun aja kaya orang banyak utang"...
Ini dia sahabat ku Samsul. Sahabat setia dalam segala hal. Namun banyak orang yang hilang persahabatan kami ibarat siburuk rupa dan pangeran impian. Sungguh ini label yang paling memuaskan...
Walaupun perbandingan kami jauh beda, justru disinilah nikmatnya persahabatan kami. Ya walaupun realitanya dia yang paling banyak nikmatnya ðŸ˜­...
"Engga bro, Gue kesiangan masuk kelas. Mana yang masuk dosen kumis baplang lagi"..
"Santai bro, kalo Lo ga lulus tahun depan masih bisa ngulang ha-ha-ha"...
"Kampret Lo... Bisa jadi mahasiswa abadi gue disini"...
"Tenang bro, semua akan baik-baik saja" Samsul ngerangkul ku dengan tangannya yang putih. Sial, perbandingan kulit ku dengannya benar-benar kontras. Dia putih kaya gula pasir dan aku coklat kaya gula Jawa yang nyaris gosong.


*Bersambung

kopi pahit

Rasanya linu dihati...
Berkali-kali berkomunikasi dengan Diri, hanya menimbulkan kegundahan yang semakin menjadi...
Api lilinku telah padam, karena hembusan angin lalu...
Sungguh memilukan dikalbu...
.
.
Tangan bergetar, mata terpejam sedang bibir digigit...
Menahan rasa ini,
Aduhai aku menanggung hukuman ini...
Sudikah kiranya Tuhan mengampuni pada Diri yang hina ini
.
.
Menunggu, hanya hanya itu bisa dilakukan...
Namun mengapa, yang ditunggu seolah menepis penantian ini...
Ia bahkan terasa lebih dingin dibanding hujan di malam ini...
Singkatnya jawaban yang diberi saat ku menghubungi...
.
.
Apakah aku bodoh, ataukah memang bodoh...
Terlalu payah, sungguh payah...
Apa alasanku menunggu...
Padahal ia telah memiliki cincin yang lain...
.
.
Rasanya sakit,
Aku hanya ingin memberikan ketulusan ini untuknya...
Tapi, aku tak tau jikalau aku malah menuntutnya...
Aku seolah memainkan peran antagonis, padahal bukan peran itu yang ku mau...
...
...
Pilu sekali... Bahkan rasanya menyesak di ulu hati, dan pikiran tak karuan
Sangat singkat cerita ini...
Kini berubah jadi awan mendung yang bergulung-gulung
Aku pun terjebak hujan ditepian jalan yang sepi dan sunyi...
.
.
Katakanlah bila kau tak mau aku tunggu...
Biar semangat juangku menantimu tak lagi menggebu...
Katakanlah kau enggan bersamaku
Biar aku tahu Diri tentang posisiku...
.
.
Namun hanya satu cintaku
Baik-baiklah kau disana...
Doa terbaik ku panjatkan untukmu...
Hingga suatu saat nanti, aku akan menyadari aku menyuguhkan ketulusan untukmu...
Walaupun kau tau, aku memang tak secemerlang masa lalumu...
.
.
Dan dari sini...
Aku akan berhenti membuka hati lagi...
Setelah hati gagal membawa Diri menuju surga illahi...
Tak ingin memulai  lagi, karena mungkin hal ini akan terulang kembali

lilin yang padam


Disini aku sepi...
Bersama bayang-bayang maha yang menghantui..
Takdirku telah di jalani,,, pada goresan tinta Tuhan ku di hendaki... Apalah daya ku ini, hanya bisa menikmati sesuatu yang belum pasti, sedang hati sangatlah ingin menguasai...
Pada rumput-rumput yang terus tumbuh subur, ku sampaikan rasa syukur kepada Robb yang maha luhur,,,, jangan biarkan hati ini menjadi kufur, sedang Diri tak mampu menahan siksa kubur...
Ku berpikir dan bertafakur,,, tentang Diri yang malah semakin ngelantur, langkah malah semakin ngawur...aduhai kenapa gerangan Diri ini ....
...
Langkah terjebak pada tinta merah yang semakin merekah... Bodohnya aku malah semakin menikmati dan pasrah... Sedang catatan-catatan tidak pernah absen dari pantauan dari setiap arah... butakah atau bodohkah.. sedang aku tau tentang ilmu yang barokah seperti apa...
...
Cukuplah kau pandangi senja dari kejauhan.. tak perlu di kejar atau hendak ingin memiliki...karena itu kebodohan yang konyol dan menyakiti Diri...

senja

Mudik,,,,  ya momentum dimana kita bisa pulang ke rumah bertemu dengan keluarga dan sodara.
Seperti hak nya aku yang merupakan salah satu tokoh yang merantau dari kampung halaman. Memang sekilas hal ini biasa saja. Namun amat berharga buatku.
Saat mudik, aku tidak suka kemana-mana, hanya diam dirumah tepatnya didalam kamar. Kalau nenek ku kata aku ini seolah pengantin jha yang hanya diam dikamar.
Pada kesempatan kali ini aku izin mudik karena sodaraku meninggal. Hasil pertimbangan waktu ku putuskan hari Minggu pulang. Kurang lebih 5 hari aku dikampung halaman.
Di saat gersangnya kota serang, kampung menjadi penawar segala kegalauan yang di rasakan.
Aku mulai menikmati kesendirian dan rasa sepi ini...
Bahkan rasanya enggan balik ke sana. Namun, tugas harus aku lanjutkan... Tak bisa aku berhenti sampai disini.
Lagi pula banyak hal yang harus aku lakukan...
Banyak pr yang harus aku selesaikan
Banyak mimpi yang harus aku wujudkan...
Mudah-mudahan umur ini sampai pada semua mimpi dan harapan yang telah tergores dalam hati yang paling dalam...
...
Sungguh, sangat bermanfaat sekali aku mudik kali ini, disaat hambanya hati dan lingkungannya Diri. Nasihat dan wejangan yang diberi memberi semangat baru dan Diri seolah lepas dari cengkraman tali kegalauan.
Alhamdulillah, sekarang semangat ini sudah mulai kembali pulih...
Aku harus semangat, tetap semangat...
Bahkan saat benar-benar rapuh, aku harus tetap semangat. Karena banyak yang ingin aku tetap semangat.
Memberi arti untuk orang yang tersayang...
Lelah, itu biasa... Semoga lelah ini menjadi lillah...
Dan hingga akhirnya Tuhan mengajakku pulang
Itulah hidup...kadang diatas kadang dibawah...
Ia laksana roda yang terus berputar, tak henti tak memandang siapapun yang dibawahnya...
Itulah hidup, kta akan tau siapa Diri kita saat diatas maupun dibawah
Itulah hidup, kita akan tahu sifat kita sebenarnya...

Saat kau diatas, mampukah menguasai nafsu dan hati
Ayunan gemerlap dunia yang mudah kau dapat bisa membutakan
Mudah atau sulitkah dalam mengeluarkan picisan
Tinggi atau rendah kah suara yang kau keluarkan

Saat kau dibawah, mampukah kau bersabar
Sempitnya langkah dan sesaknya kehidupan bisa membutakan jua
Masih bisakah kau mengeluarkan picisan
Masih bisakah kau bangun disaat nikmatnya tidur malam...

Inilah hidup
Ia akan terus hidup
Tanpa ada kita pun kehidupan akan terus berjalan

Inilah hidup, mengajarkan tentang kehidupan
Berbicara tentang ujian berbicara tentang kesabaran

Inilah hidup, mampukah kita lewati dalam kerendahan Diri pada Robbi
Yang kita tau ia senantiasa memantau kita setiap waktu
Inilah hidup, yang mengajarkan sebuah sikap yang harus kita ambil
Tekan semampunya nafsu, kunjung tinggi sifat tuhan dihati

- Copyright © RENI RETNA AYU - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -